fbpx

Fraud Audit

Training Fraud Audit

Fraud Audit, bagaimana mendeteksi kecurangan dan  gejalanya?

Fraud itu seperti lubang kecil penyebab bocornya ban motor kita. Sekalipun kecil dan tak terlihat, lambat laun angin di dalamnya pasti habis. Akibatnya, motor kita harus berhenti dan tidak dapat berjalan lagi.

Aktivitas penipuan bisa terjadi di manapun dan kapanpun. Entah itu skala besar, ataupun kecil. Nah, pertanyaannya, seberapa besar keseriusan organisasi kita untuk mendeteksi dan mencegah ‘ban bocor’ ini? Sudah seberapa jauh anda mengetahui seluk beluk aktivitas fraud? Simak seputar fraud audit berikut.

Apa itu fraud audit?

Fraud audit? Mari kita artikan sama-sama. Fraud audit merupakan rangkaian pemeriksaan atas catatan keuangan bisnis dengan tujuan menemukan aktivitas penipuan. Kita semua tak mau kan, bisnis/perusahaan kita merugi akibat ada nya aktivitas fraud?

Fraud/penipuan seperti penyakit yang mengakar, bisa saja terjadi kapanpun dan dimanapun. Bayangkan, perusahaan mesin pencari raksasa Google pernah mengalami kasus fraud sebesar 23 juta dollar atau sekitar 3,3 triliun rupiah. Dari sini kita tahu kalau perusahaan besar yang punya pengawasan keuangan baikpun ternyata tak terlepas dari aktivitas fraud. Sebagai auditor kita harus bisa menemukan pemicu fraud sedini mungkin untuk meminimalisir resiko kerugian yang terjadi.

Mengapa seseorang melakukan Fraud?

Kenapa sih, seseorang bisa-bisanya melakukan fraud? Yuk kenali fraud triangle supaya kita tahu bagaimana memperlakukan seorang karyawan sebelum terjadi kasus.

Pertama, adanya opportunity/kesempatan. Penipuan ini biasanya terjadi akibat lemahnya pengawasan atau tidak ada kontrol yang dilakukan. Hal ini tentu saja membuka kesempatan bagi seseorang untuk melakukannya. Bagaimana tidak, mereka berpikir bahwa mereka tidak akan tertangkap karena kondisi sangat lengang.

Bahkan, survei dari ACFE’s 2020 melaporkan sebanyak 32% kasus fraud disebabkan oleh kurang nya kontrol dan pengawasan internal. Waduh, ngeri ya? Jangan sampai bisnis kita rugi karena kita lengah dalam mengawasi.

Kedua, ada nya pressure atau tekanan. Faktor ini merupakan motivasi seseorang untuk melakukan fraud. Contoh kecil nya seperti kesulitan finansial, keinginan untuk mempertahankan gaya hidup mewah, atau bahkan kecanduan narkoba atau judi.

Dalam skala besarnya, sebuah studi di Universitas Indonesia menyatakan bahwa pressure tersebut juga berasal dari stabilitas keuangan perusahaan yang terancam, tekanan eksternal misalnya dari pemberi pinjaman, dan kesulitan dalam mencapai target.

Ketiga, rationalization atau pembenaran. Fraud terjadi karena ketidakmampuan  seseorang dalam menilai kualitas pekerjaan. Maksud nya adalah mengacu pada pembenaran individu untuk melakukan penipuan. Contoh nya seperti: “saya melakukan ini karena atasan memperlakukan saya dengan buruk”. Seseorang yang seperti ini mungkin dengki terhadap manajernya dan percaya bahwa melakukan penipuan adalah bentuk tindakan yang bisa dibenarkan.

Selain contoh di atas, Banyak kasus fraud terjadi karena atasan mereka juga melakukan hal yang sama. Seseorang mengikuti jejak atasan nya yang juga melakukan fraud. Mereka beranggapan seperti, “atasan saya korup gakpapa, berarti saya juga gakpapa, dong?”. Duh, jangan sampai kita memberikan contoh yang buruk bagi karyawan kita ya!

Yuk, kenali 3 jenis fraud

Jika sudah paham apa saja penyebab fraud, kita kenalan yuk sama jenis-jenisnya. Mengapa? karena mengendalikan fraud berbeda-beda, bergantung pada jenis fraud nya apa. Lembaga anti fraud terbesar di dunia, ACFE, membagi fraud dalam tiga jenis perbuatan:

Pertama, aset misappropriation atau istilahnya penyalahgunaan asset perusahaan entah itu dicuri atau digunakan untuk keperluan lain. Asset misappropriation adalah jenis fraud yang mudah dideteksi karena bisa diukur. Contohnya seperti, pencurian kas, pencairan dana yang curang, serta penyalahgunaan inventaris dan asset.

Kedua, fraudulent statements atau pernyataan palsu. Maksud nya gimana? fraudulent statement ini tergolong jenis fraud yang dilakukan pejabat atau eksekutif perusahaan. Mereka menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya dengan melakukan rekayasa keuangan dalam penyajian laporan keuangannya, atau dikenal dengan istilah window dressing.

Fraud jenis ini juga sering terjadi di perusahaan besar. Salah satu nya Toshiba corp. menurut Investopedia.com, CEO dari perusahan pemroduksi PC terbesar ke-lima di dunia itu melebihsajikan (overstated) laba sekitar $ 1,2 miliar selama kurang lebih 7 tahun.

Ketiga, jenis fraud yang tidak asing bagi kita. Ya, corrupt atau korupsi. Korupsi adalah jenis fraud yang paling sering terjadi di Indonesia. Sering terjadi pada negara dengan kekuatan hukum yang lemah. Dilaporkan dari survei ACFE Indonesia bahwa kasus korupsi di Indonesia mencapai 64.4%.

Ya, ini tergolong kasus fraud yang paling susah dideteksi karena pihak di dalamnya bekerja sama menikmati keuntungan (simbiosis mutualisme). Seperti penyalahgunaan wewenang/ konflik kepentingan (conflict of interest), penyuapan (bribery), penerimaan yang tidak sah/illegal (illegal gratuities), dan pemerasan secara ekonomi (economic extortion).

Lantas, bagaimana strategi mencegah fraud?

Mencegah lebih baik daripada mengobati, ‘kan? Karena fraud sangat bisa kita hindari. Penasaran? Simak baik-baik tips mencegah fraud berikut.

Pertama, Dimulai dari mengenal karyawan kita. Eits, jangan salah. Cara yang satu ini merupakan pendekatan yang paling mudah. Pelaku fraud bisa kenali ciri-ciri nya berupa perubahan sikap. Seperti yang kita bahas tadi, jika seorang karyawan merasa kurang dihargai oleh atasannya, hal ini dapat membuatnya melakukan penipuan sebagai cara balas dendam.

Nah, kita sebagai atasan harus lebih memperhatikan karyawan itu. Dengan memberikan atensi, toh kita tidak hanya mencegah fraud, tetapi juga membuat perusahaan kita menjadi tempat yang menyenangkan bagi karyawannya.

Kedua, buatlah karyawan kita I terhadap sanksi aktivitas fraud. Setiap karyawan harus mengetahui kebijakan risiko fraud termasuk konsekuensi jika mereka terjerat kasusnya. Mereka yang berencana melakukan fraud akan mengetahui bahwa kita mengawasi dan tahu resikonya. Penguatan kode etik juga efektif dalam mencegah terjadinya aktivitas fraud.

Ketiga, pendalaman dan penguatan dari sistem tata kelola dengan 10 atribut fraud control plan. 10 Atribut fraud control plan antara lain, kebijakan terintegrasi, struktur pertanggungjawaban, penilaian risiko fraud, kepedulian karyawan, dan kepedulian pelanggan masyarakat. Control plan ini dirancang oleh pemerintah kita agar memudahkan pengungkapan aktivitas terindikasi fraud.

Keempat, terapkan program perlindungan pelapor/saksi. Kebanyakan kasus fraud tertutupi dan tidak terungkap karena pelapor merasa terancam. Dengan ada nya program ini, pelapor akan merasa terlindungi dan aktivitas fraud bisa kita cegah. sistem pelaporan fraud, pelaporan eksternal, standar investigasi, dan standar perilaku dan disiplin juga harus kita terapkan di perusahaan kita.

Cara mendeteksi Fraud berdasarkan jenisnya.

Kalau sudah paham strategi pencegahan, bagaimana cara mendeteksi apabila terjadi aktivitas fraud di perusahaan kita? Kita juga harus punya strategi untuk mengendalikannya bukan? Pengendalian fraud berbeda-beda loh. Tergantung pada jenisnya. Berikut langkah yang harus kamu lakukan untuk mendeteksi aktivitas fraud.

Yang pertama, Mendeteksi fraudulent statements. Dalam penyajian laporan keuangan umumnya dapat dideteksi melalui analisis laporan keuangan sebagai berikut. Ada analisis vertikal, yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara item-item dalam laporan laba rugi, neraca, atau laporan arus kas dengan menggambarkannya dalam persentase.

Lalu ada analisis horizontal. yaitu teknik untuk menganalisis persentase persentase perubahan item laporan keuangan selama beberapa periode. Dan yang terakhir ada analisis rasio, yaitu alat untuk mengukur hubungan antara nilai-nilai item dalam laporan keuangan.

Kedua, mendeteksi Asset Misappropriation (Penyalahgunaan aset). Yang bisa kita lakukan adalah analytical review. Statistical sampling juga bisa kita lakukan untuk menentukan ketidakbiasaan (irregularities), metode deteksi ini akan efektif jika ada kecurigaan terhadap satu attribut, misalnya pemasok fiktif. Dan yang terakhir, fraud jenis ini kemungkinan besar terjadi jika ada keluhan dari vendor atau pihak lain.

Ketiga, medeteksi fraud Corruption (Korupsi). Tidak ada obat yang ampuh dalam memberantas korupsi. Karena sebagian besar kecurangan ini dapat dideteksi melalui keluhan dari rekan kerja yang jujur ataupun pemasok yang tidak puas dan menyampaikan komplain ke perusahaan.

Nah, cara terbaik untuk mengendalikan korupsi adalah dengan melakukan investigasi khusus kepada tersngka atau transaksinya. Pendeteksian atas kecurangan ini dapat dilihat dari karakteristik Red flag si penerima maupun si pemberi. Waduh, lantas apa saja karakteristik red flag ini?

Red flag merupakan perilaku-perilaku yang menjadi tolak ukur terjadinya corrupt, seperti the Sleaze factor (rendah nya moral), the too succesful bidder (bidder yang terlalu bagus), poor quality higher prices (kualitas buruk harga tinggi).

Selain itu, Orang-orang yang menerima dana korupsi ataupun penggelapan dana memiliki ciri-ciri seperti one-person operation (operasi individu), the big spender (pemborosan yang besar), the gift taker (menerima hadiah/sesuatu yang tak wajar), the rule breaker (pelanggar aturan).

Anda tertarik ingin mendeteksi fraud? Dan ingin melakukan investigasi atas kasus fraud yang terjadi? Gabung bersama training online ALC langsung bersama Oktarika Ayoe Sandha, praktisi audit publik handal yang berpengalaman sebagai trainer auditor di beberapa perusahan multinasional.

Yuk mendalami Fraud Audit bersama ALC Leadership Management

Apa yang special dari kami?

– Metode pelatihan yang diberikan berupa metode belajar aktif. Dalam metode ini lebih menekankan pada pembentukan kerangka berpikir (frame work) praktis yang sistematis dengan menonjolkan berbagai contoh, ilustrasi dan kasus.

– Metode simulasi diarahkan untuk meningkatkan pemahaman praktis secara komprehensif.

– Materi disampaikan oleh trainer yang luar biasa dan berkompeten.

– Modul/ materi training berupa pdf.

5 perubahan setelah mengikuti training fraud audit

– Anda bisa sangat memahami jenis-jenis fraud

– Anda bisa memahami mengapa seseorang melakukan fraud

– Anda jadi tahu fakta seputar fraud

– Anda dapat mengenali gejala fraud lebih dini sehingga resiko fraud bisa diminimalisir

– Anda menjadi paham bagaimana melawan fraud

Oktarika Ayoe SandhaPembicara : 

Oktarika Ayoe Sandha

Praktisi audit publik. Handal dan berpengalaman sebagai trainer auditor di beberapa perusahan multinasional, seperti PT Perikanan Indonesia PT Kawasan Industri Medan.

Jadwal training publik online

Kamis, 13 Januari 2022

(09.00 – 12.00 WIB)

Investasi : Rp. 1.200.000,-

Detail info hubungi team ALC di 087779199555

Jadwal Training Online

Procurement and Purchasing Management
  • 15 Nov 2021 | 09.00 - 12.00 WIB
  • Training Online via Zoom
Creative Thinking
  • 18 November 2021 | 09.00 - 11.30 WIB
  • Training Online via Zoom
Creative Negotiation Skills
  • 6 Desember 2021 | 09.00 - 12.00 WIB
  • Training Online via Zoom
Self Leadership in Challenging Times
  • 14 Desember 2021 | 09.00 - 11.30 WIB
  • Training Online via Zoom
Fraud Audit
  • 13 Jan 2022 | 09.00 - 12.00 WIB
  • Training Online via Zoom

Hubungi Team ALC

  • Celebration Garden Blok AC.9 No. 19 Grand Wisata 17510
  • 02182615440
    087779199555

Share With Your Friends