Agile Leadership & Change Agent: Membangun Pemimpin Adaptif di Era Perubahan Cepat

Agile Leadership & Change Agent Membangun Pemimpin Adaptif di Era Perubahan Cepat ALC Leadership Management

Di tengah dunia kerja yang bergerak semakin cepat, perubahan menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Organisasi dituntut untuk lebih adaptif, responsif, dan mampu mengambil keputusan strategis dengan ketepatan tinggi.

Pada level inilah peran pemimpin semakin krusial. Mereka tidak hanya dituntut untuk mengarahkan, tetapi juga menjadi change agent yang mampu menggerakkan perubahan secara efektif, humanis, dan berkelanjutan.

Pada Selasa–Rabu, 2–3 Desember 2025, ALC Leadership Management bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melaksanakan training leadership dengan topik “Agile Leadership & Change Agent.”

Program ini dirancang untuk membantu para pemimpin membangun self-awareness, meningkatkan emotional intelligence, menguatkan growth mindset, menumbuhkan agility, membangun high-performing team, meningkatkan kolaborasi lintas fungsi, memperkuat manajemen pemangku kepentingan, serta membekali mereka dengan kemampuan memimpin perubahan di tengah tantangan dan ketidakpastian.

Meski berisi materi yang komprehensif, training ini lebih dari sekadar teori. Dua hari pelatihan berjalan sangat interaktif, penuh diskusi, simulasi, dan momen refleksi mendalam yang membuka wawasan baru bagi seluruh peserta.

Keseruan Dua Hari Training: Kolaborasi, Insight, dan Transformasi

Awareness yang Membuka Mata

Suasana training dimulai dengan antusiasme tinggi. Dipandu oleh Dr. Yogi S. Wibowo dan Ainy Fauziyah, peserta langsung diajak masuk ke sesi refleksi untuk mengenali pola kepemimpinan mereka selama ini. Banyak peserta yang tersenyum sambil mengangguk ketika menemukan bahwa beberapa tantangan tim ternyata berakar dari leadership behavior yang berjalan otomatis tanpa disadari.

Salah satu sesi yang paling banyak meninggalkan kesan adalah ketika peserta diminta melihat kembali bagaimana mereka merespons perubahan selama ini, apakah sebagai penghambat perubahan, pengikut perubahan, atau penggerak perubahan.

Diskusi yang muncul begitu hidup, penuh contoh nyata dari pengalaman sehari-hari para pemimpin di PPATK.
Mereka mulai menyadari bahwa kemampuan beradaptasi bukan hanya soal kecepatan mengambil keputusan, tetapi juga keberanian untuk jujur pada diri sendiri, terbuka pada masukan, dan tidak takut mengakui area yang perlu ditingkatkan.

Beberapa peserta bahkan menyampaikan bahwa sesi ini seperti “bercermin,” karena mereka bisa melihat pola lama yang perlu ditinggalkan dan pola baru yang harus dibangun untuk menjadi pemimpin yang lebih agile.

Belajar Growth Mindset dengan Cara yang Fun dan Relatable

Sesi tentang growth mindset dan agility menjadi salah satu momen paling menyenangkan. Tidak disampaikan dengan teori panjang, melainkan melalui eksperimen kecil, simulasi, dan tantangan kelompok yang menguji pola pikir peserta secara langsung.

Ada momen ketika kelompok diminta mencari solusi cepat dalam situasi yang tidak jelas. Pada awalnya, beberapa peserta tampak ragu, namun setelah mencoba beberapa pendekatan, mereka tertawa ketika menyadari bahwa ketakutan terhadap “salah” lah yang membuat proses berjalan lambat.

Sesi ini menjadi turning point: “Kalau kita ingin tim agile, pemimpinnya harus lebih agile dulu.” Begitu kalimat yang dilontarkan salah satu peserta, yang langsung disambut tepuk tangan dari rekan-rekannya.

Tantangan kecil seperti ini ternyata mampu memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana pola pikir terbuka dan fleksibel membuat kualitas kolaborasi jauh lebih efektif. Di sinilah peserta merasakan sendiri bahwa agility bukan teori, tetapi praktik sehari-hari.

Emotional Intelligence yang Menguatkan Kepekaan Pemimpin

Training ini juga mengajak peserta menajamkan emotional intelligence, salah satu kompetensi inti dalam memimpin perubahan. Ketika para pemimpin memahami emosi diri dan timnya, mereka dapat merespons situasi dengan lebih tenang, objektif, dan solutif.

Ada sesi menarik ketika peserta diminta mengidentifikasi “trigger” yang membuat mereka mudah marah, tersinggung, atau defensif saat bekerja. Banyak yang tertawa malu karena ternyata trigger tersebut seringkali bukan hal besar, hanya masalah komunikasi yang tidak jelas atau tekanan target yang tidak dikelola.

Sesi ini membuat peserta lebih memahami bagaimana menjaga regulasi emosi dapat memengaruhi cara tim bekerja. Beberapa peserta mengakui bahwa mereka jarang menyadari bagaimana tone bicara, bahasa tubuh, atau respon spontan mereka memengaruhi psikologis anggota tim. Setelah memahami hal ini, banyak yang mulai berkomitmen memperbaiki pola interaksinya.

Tantangan Membangun High-Performing Team

Salah satu sesi paling interaktif adalah ketika peserta dibagi dalam kelompok untuk menyelesaikan sebuah challenge yang dirancang menggambarkan dinamika tim di dunia kerja. Ada tim yang langsung bergerak cepat, ada yang terlalu banyak diskusi, ada pula yang menyadari bahwa orang-orang dengan gaya kerja berbeda butuh pendekatan berbeda untuk bisa bersinergi.

Keseruan mulai muncul ketika muncul dinamika-dinamika kecil: perdebatan sehat, tawa karena miskomunikasi, hingga momen ketika strategi yang dianggap tepat ternyata keliru. Dari pengalaman nyata itu, peserta belajar bahwa kinerja tim bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga cara pemimpin memberi arah, membuat keputusan, dan menciptakan atmosfer kolaboratif.

Banyak peserta menyadari bahwa “high-performing team” bukan sekadar jargon, tetapi kondisi yang harus dibangun dengan konsistensi. Mereka perlu menjadi pemimpin yang mampu memberdayakan, bukan hanya mengontrol.

Coaching & Feedback: Membangun Kepercayaan dalam Kepemimpinan

Sesi coaching dan feedback menjadi salah satu yang paling membuka wawasan peserta. Banyak pemimpin mengakui bahwa memberi feedback, apalagi feedback sulit, sering menjadi tantangan tersendiri. Ada yang takut menyakiti perasaan anggota tim, ada pula yang bingung bagaimana menyampaikan dengan efektif.

Melalui roleplay dan simulasi, peserta belajar membangun percakapan yang konstruktif, mengalir, dan fokus pada pengembangan, bukan menyalahkan. Suasana semakin seru saat peserta saling memberi feedback secara langsung. Ada gelak tawa ketika beberapa peserta menyadari betapa mudahnya salah paham terjadi hanya karena penyampaian yang kurang tepat.

Namun justru dari momen itulah mereka mendapatkan pelajaran penting: komunikasi yang baik bukan hanya membuat pekerjaan lebih efektif, tetapi juga membangun rasa saling percaya dan keterhubungan dalam tim.

Kolaborasi Lintas Fungsi: Menyatukan Perspektif untuk Perubahan

Dalam organisasi sebesar PPATK, kolaborasi lintas fungsi menjadi salah satu tantangan yang sering muncul. Karena itu, training ini memberikan ruang bagi peserta untuk merasakan langsung bagaimana bekerja dengan orang-orang yang pola berpikir dan ritme kerjanya berbeda.

Sesi ini berlangsung sangat dinamis. Peserta dari berbagai divisi saling bertukar perspektif, membahas situasi nyata yang mereka hadapi, dan menemukan cara kolaborasi yang lebih efektif. Banyak yang mengakui bahwa training ini membantu mereka memahami bahwa setiap unit bukan hanya memiliki tugas yang berbeda, tetapi juga tantangan dan prioritas yang berbeda.

Kesadaran ini membuat mereka lebih siap membangun kerja sama lintas fungsi yang lebih solid, lebih cepat, dan lebih produktif.

Manajemen Stakeholder: Menghadapi Harapan dan Tekanan dengan Lebih Taktis

Sesi berikutnya mengangkat tentang bagaimana pemimpin bisa berkomunikasi dan meyakinkan pemangku kepentingan, baik internal maupun eksternal. Peserta diajak melihat kembali bagaimana selama ini mereka mengelola ekspektasi stakeholder, menangani tekanan, atau menyampaikan pesan strategis.

Lewat diskusi kasus yang dibawakan oleh pemateri, peserta mendapatkan banyak insight baru tentang pentingnya membaca situasi, memahami karakter stakeholder, dan memilih strategi komunikasi yang tepat.

Beberapa peserta mengatakan sesi ini membantu mereka melihat bahwa menjadi change agent bukan hanya soal ide, tetapi juga kemampuan membawa semua pihak bergerak bersama.

Leadership Agility dalam Menghadapi Ketidakpastian

Pada hari kedua, suasana kelas semakin akrab. Peserta tampak lebih aktif bertanya, berbagi pengalaman, dan saling memberikan sudut pandang.

Sesi tentang bagaimana memimpin perubahan dalam kondisi penuh ketidakpastian menjadi salah satu momen yang kuat. Banyak peserta mengaitkannya dengan dunia kerja mereka yang sering berhadapan dengan dinamika regulasi, analisis risiko, dan keputusan yang harus diambil secara cepat dan tepat.

Melalui simulasi situasi perubahan yang kompleks, peserta belajar bahwa ketenangan pemimpin, kejelasan arahan, dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci untuk membawa tim tetap fokus dan bergerak.
Peserta merasakan langsung bagaimana keputusan strategis yang tepat berdampak pada keberhasilan tim melewati tantangan.

Transformasi yang Terlihat: Dari Mindset hingga Cara Berkolaborasi

Selama dua hari pelatihan, transformasi peserta terlihat jelas. Mereka tidak hanya belajar konsep baru, tetapi juga mulai mengimplementasikannya dalam sikap dan cara berpikir. Ada yang menyadari pola komunikasi yang perlu diperbaiki, ada yang merasa lebih berani mengambil keputusan, dan ada pula yang mulai menyusun ulang strategi kepemimpinan yang lebih adaptif.

Banyak peserta yang menyampaikan bahwa mereka pulang dengan perspektif baru tentang apa arti menjadi pemimpin. Bukan lagi sosok yang hanya memberi instruksi, tetapi pemimpin yang mendengarkan, memberdayakan, dan menggerakkan perubahan.

Kesimpulan

Training Agile Leadership & Change Agent yang diselenggarakan oleh ALC Leadership Management bersama PPATK pada 2–3 Desember 2025 berhasil memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, relevan, dan penuh makna. Selama dua hari, peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan mengenai agility dan kepemimpinan adaptif, tetapi juga merasakan transformasi nyata melalui diskusi, simulasi, dan refleksi.

Mereka belajar menjadi pemimpin yang lebih sadar diri, lebih peka secara emosional, lebih kolaboratif, dan lebih siap menghadapi perubahan. Yang paling penting, mereka pulang dengan komitmen untuk membangun budaya kerja yang lebih agile, responsif, dan berdampak nyata bagi organisasi.

Training ini bukan hanya tentang memahami konsep kepemimpinan, tetapi tentang mengalami sendiri bagaimana perubahan dimulai dari dalam diri pemimpin.

Detail info pelatihan, hubungi team ALC sekarang