Memimpin dengan Hati: Peran Kecerdasan Emosional dalam Dunia Kerja

Memimpin dengan Hati Peran Kecerdasan Emosional dalam Dunia Kerja

ALC Leadership Management bekerja sama dengan PT Madison Multi Mineral melaksanakan training leadership dengan topik “The Power of Working with Emotional Intelligence” pada Sabtu, 19 Juli 2025, bertempat di Fieris Hotel Rawamangun, Jakarta.

Acara ini menghadirkan pembicara utama Ainy Fauziyah, seorang leadership coach berpengalaman yang dikenal dengan pendekatan humanis dan transformasionalnya.

Suasana Training: Hangat, Dekat, dan Penuh Tawa

Sejak sesi pembukaan, suasana ruangan langsung terasa hangat. Para peserta datang dengan rasa penasaran: “Apa yang sebenarnya dimaksud dengan memimpin dengan kecerdasan emosional?” Namun hanya dalam beberapa menit, Ainy berhasil memecah kekakuan dengan gaya penyampaian yang lugas dan penuh energi.

Tawa ringan, anggukan-anggukan kepala, hingga komentar spontan dari peserta membuat ruangan terasa hidup. Banyak peserta yang mengaku merasa seperti sedang “berbicara dari hati ke hati”, bukan sekadar mengikuti pelatihan formal.

Beberapa sesi diskusi bahkan memunculkan cerita-cerita yang begitu relevan dengan keseharian kerja: bagaimana menghadapi bawahan yang sedang stres, bagaimana mengelola emosi ketika tekanan meningkat, hingga bagaimana tetap tenang saat masalah datang bertubi-tubi. Cerita-cerita ini membuat peserta merasa tidak sendiri, karena ternyata tantangan mereka banyak yang sama.

Momen Refleksi yang Membuka Mata

Salah satu bagian paling berkesan dari training ini adalah ketika peserta diajak melakukan refleksi diri. Ketika lampu ruangan diredupkan dan Ainy mulai memandu sesi refleksi, suasana berubah menjadi sangat hening. Beberapa peserta terlihat menghela napas panjang, menyadari bahwa selama ini mereka jarang sekali berhenti untuk melihat ke dalam.

Ada peserta yang tersenyum kecil ketika menyadari kebiasaannya terlalu perfeksionis. Ada juga yang mengangguk pelan ketika memahami mengapa ia sering merasa cepat marah. Bahkan beberapa terlihat berkaca-kaca karena menyadari bahwa ternyata mereka menuntut orang lain tanpa pernah benar-benar memahami perasaannya sendiri.

Setelah sesi ini, suasana berubah jadi lebih akrab. Peserta menjadi lebih terbuka, lebih jujur, dan lebih berani bercerita tentang pengalaman personal mereka di dunia kerja.

Interaksi Seru dan Latihan yang Membuat Peserta Tertawa tapi Juga Belajar

Tidak hanya reflektif, training ini juga dipenuhi dengan aktivitas-aktivitas seru. Salah satu latihan yang paling membuat peserta tertawa adalah ketika mereka diminta menirukan reaksi spontan saat menghadapi situasi penuh tekanan. Ada yang bereaksi terlalu cepat, ada yang terlalu diam, ada juga yang kebingungan. Momen ini menjadi candaan bersama, tapi sekaligus membuka pemahaman bahwa reaksi kita sering kali otomatis, tanpa kita sadari.

Diskusi kelompok pun berlangsung sangat hidup. Setiap kelompok memiliki dinamika berbeda, namun semuanya terlihat menikmati prosesnya. Mereka saling memberi masukan, saling menyemangati, dan bahkan saling menggoda ketika ada insight yang “kena banget”.

Banyak peserta yang berkata, “Saya baru sadar ternyata saya sering terpancing emosi karena kurang memahami diri sendiri.”
Ada juga yang berkata, “Saya pikir EQ itu teori, tapi ternyata sangat dekat dengan keseharian saya.”

Insight yang Berharga dan Bisa Dipraktikkan

Walaupun tidak dibanjiri teori, setiap peserta pulang dengan banyak pembelajaran praktis yang bisa langsung digunakan.

Beberapa hal yang paling sering disebut sebagai highlight antara lain:
• Pentingnya memberi jeda sebelum bereaksi.
• Menyadari emosi diri sebelum mengarahkan orang lain.
• Mendengarkan tanpa menghakimi, sebuah tantangan besar, tapi sangat berdampak.
• Memberi umpan balik dengan cara yang membuat orang lain merasa dihargai.
• Sadar bahwa pemimpin yang kuat bukan yang suaranya keras, tapi yang hatinya peka.

Salah satu peserta bahkan berkata, “Ini bukan hanya training, tapi seperti berkaca. Saya melihat diri saya dari sisi yang selama ini tidak saya perhatikan.”

Kedekatan Peserta dengan Coach Ainy: Humanis, Tegas, dan Menginspirasi

Banyak peserta mengapresiasi cara Ainy membawakan training. Beliau tidak hanya mengajar, tapi mendengarkan dan membangun koneksi emosional yang kuat dengan peserta. Ketegasan beliau justru membuat peserta merasa aman, sementara pendekatan humanisnya membuat mereka merasa dihargai apa adanya.

Tidak heran, banyak peserta yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, curhat tentang pengalaman di kantor, bahkan meminta masukan langsung dari Ainy. Setiap jawabannya terasa mengena dan membumi.

Peserta Pulang dengan Kesadaran Baru

Di akhir sesi, setiap peserta diminta menuliskan satu komitmen kecil yang akan mereka lakukan setelah training. Ada yang menuliskan “lebih sabar saat ditekan”, ada yang menuliskan “belajar mendengarkan lebih banyak”, ada pula yang berkomitmen “tidak lagi memendam emosi tapi mengelolanya dengan bijak”.

Komitmen kecil itu menjadi simbol bahwa perubahan besar dimulai dari langkah sederhana  dan training hari itu telah membuka jalannya.

Kesimpulan

Training “The Power of Working with Emotional Intelligence” memberikan pengalaman yang tidak hanya menyentuh pikiran, tetapi juga hati. Peserta mendapatkan banyak momen refleksi, tawa, interaksi positif, dan pembelajaran praktis yang membuka jalan untuk menjadi pemimpin yang lebih peka, lebih sabar, dan lebih manusiawi.

Acara ini membuktikan bahwa kepemimpinan bukan hanya urusan strategi kerja, tetapi juga bagaimana seseorang memahami dan memengaruhi perasaan orang lain. Dengan EQ yang kuat, seorang pemimpin bukan hanya menghasilkan kinerja yang baik, tetapi juga membangun hubungan yang sehat dan tim yang tumbuh bersama.

Dan di hari itu, di Fieris Hotel Rawamangun, para peserta pulang dengan satu keyakinan baru: memimpin dengan hati adalah kekuatan terbesar yang bisa dimiliki seorang pemimpin.

Detail info pelatihan, hubungi team ALC sekarang