Mengenal Lebih Jauh Motivator Nomor 1 Indonesia Bidang Leadership

Motivator Nomor 1 Indonesia

Motivator Nomor 1 Indonesia, yuk kita kenali lebih jauh di sini!

Siapa sih yang nggak kenal dengan Ainy Fauziyah, motivator nomor 1 Indonesia bidang leadership? Perempuan inspiratif ini katanya lahir dari keluarga sederhana loh dan berhasil meraih kesuksesan. Penasaran? Simak yuk kisah singkatnya berikut ini!

Anak Tukang Jahit Yang Mau Mengubah Nasib

Tumbuh besar di salah atu kota kecil di Jawa Timur, Bangil. Setelah lulus dari kuliah, Ainy sudah bercita-cita ingin pergi ke Jakarta dan bekerja di sana. Namun pada saat itu ia belum mengatahui bagaimana cara ia bisa survive hidup di ibu kota. Yang ia tahu ia hanya ingin ke sana. Dengan tekad dan modal nekat, Ainy datang ke Jakarta dan mencari pekerjaan di kota metropolitan.

Selama tinggal di Jakarta, Ainy sempat merasa tidak betah. Memiliki kehidupan 180 derajat berbeda dengan daerah asalnya, ia mengalami culture shock dengan kehidupan di kota barunya ini.

Baca juga : 5 Bukti Ainy Fauziyah Bukan Motivator Terbaik Indonesia

Sering ia berkeluh kesah pada ibunya yang kesehariannya bekerja sebagai tukang jahit. Ia benar-benar tidak kerasan. Sang ibu menasihati agar Ainy, putri sulungnya ini tetap bertahan di Jakarta. Ibunya yakin, seiring dengan waktu Ainy pasti menjadi terbiasa. Menurut Ibunya, berangkat ke Jakarta adalah keputusan Ainy. Sudah seharusnya ia bertanggung-jawab atas keputusan yang ia buat. 

Berkat nasihat ibunya inilah, Ainy memutuskan untuk bertahan hidup dan mengadu nasib di ibu kota pilihannya. 

Dari Karyawan BUMN Ke NGO Internasional

Pada tahun 2004,terjadinya tsunami Aceh. Jiwanya merasa terpanggil, hatinya menjerit mengatakan dirinya ingin terjun langsung, ikut serta membantu korban bencana. Padahal ia masih belum tahu bagaimana cara agar ia bisa bekerja di Aceh. Sebab ia hanya seorang assistant manager di sebuah perusahaan BUMN, yang tentunya mustahil akan ditempatkan bekerja ke daerah tersebut. Karena itu Ainy mencoba mencari cara agar ia dapat di tempatkan di Aceh.

Suatu hari ia menerima beasiswa ke Jepang. Pada saat itu Ainy sering menemukan iklan perusahaan Oxfam di koran-koran. Mengetahui bahwa Oxfam adalah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan penanggulangan bencana dan advokasi, membuatnya berandai-andai bila dirinya dapat niterima di perusahaan NGO (Non-Government Organization).

Suatu hari ia bercerita ke teman dekatnya bahwa ia ingin keluar dari perusahaan BUMN. Sebab ia merasa ketika di perusahaan tersebut, ia belum bisa memimpin dirinya sendiri. Ia juga bercerita bahwa ia ingin bekerja di perusahaan NGO dan bekerja di Aceh. Temannya itu pun menyarankan Ainy untuk memberanikan diri untuk keluar dari perusahaan BUMN dan mencari pekerjaan di Aceh.

Dengan tekad yang kuat, Ainy mencari segala informasi tentang perusahaan impiannya, Oxfam. Tidak peduli banyaknya jumlah pesaing yang ingin bekerja di perusahaan tersebut, ia tetap berusaha dan mencoba yang terbaik. Tanpa diduga-duga, ia berhasil lolos ke tahap wawancara langsung dari Oxfam dan diterima sebagai expatriate.

Walaupun sudah diterima di perusahaan Oxfam, Ainy harus kembali menimbang-timbang pilihannya. Haruskah ia bertahan di perusahaan BUMN yang jabatannya sudah menjadi pegawai tetap atau tmemutuskan bekerja di Oxfam yang kontraknya hanya tiga bulan?

Kembali pada tujuan awal, Ainy ingin bekerja di Aceh dan membatu korban bencana. Membulatkan hatinya, ia pun berangkat ke Aceh.

Mengajak Perempuan Membangun Masa Depan Anak

Bekerja di NGO Oxfam membuat karier Ainy melonjak pesat. Ia merasa diberi kebebasan dan bisa menjadi dirinya ketika bekerja di tempat tersebut.  Oxfam tetap memberikan guideline yang harus diikuti, namun untuk praktik persisnya, Ainy dipersilahkan untuk berkarya. Dan disitulah Ainy memiliki impian baru yang ingin ia wujudkan.

Ia ingin wanita di Aceh dapat mandiri mencari uang dengan berpartisipasi dalam rekonstruksi, membangun kembali rumah-rumah yang hancur akibat bencana tsunami. Sebab ia seringkali melihat para ibu yang berstatus janda dan tidak bekerja. Ainy pun penasaran, bertanya bila mereka tidak bekerja lalu bagaimana dengan pendidikan anak-anak mereka? Dan mereka hanya menjawab pasrah, “Yah bagaimana nanti tunjangan dari keluarga almarhum suami saja lah.”

Tidak puas dengan jawaban mereka, Ainy berpendapat seharusnya mereka sadar bahwa masa depan anak di tangan mereka. Ainy pun berpikir ingin mendorong para ibu untuk memiliki pekerjaan agar dapat menghidupi anak mereka. Ia pun menyampaikan permasalahan tersebut kepada atasannya.

Dalam diskusinya itu, Ainy ia ingin melibatkan perempuan di proses pembangunan rumah untuk para korban bencana tsunami. Ia ingin ibu-ibu tersebut ikut serta dalam pekerjaan yang dapat menghasilkan uang untuk keluarga mereka.

Atas ide cemerlang tersebut, Ainy mengusulkan untuk para wanita itu diberikan pekerjaan sebagai tukang cat. Iapun mendiskusikan idenya kepada timnya, namun timnya mengatakan bahwa tugas mengecat adalah pekerjaan laki-laki. Kemungkinan besar laki-laki yang bekerja sebagai tukang cat akan tidak setuju karena pekerjaannya mengecat adalah pekerjaan laki-laki.

Sukses Memberdayakan 500 Perempuan Aceh Menjadi Tukang Cat Bersertifikat

Berfokus pada goalnya untuk melakukan women empowerment, walaupun ada perbedaan kultur, Ainy berusaha mencari cara agar membuka bagaimana bisa membuka pandang orang-orang di sana. Bersama timnya, ia meminta Pak Lurah untuk dipertemukan oleh tokoh-tokoh masyarakat di tempat itu.

Berdikusi dengan tokoh masyarakat di desa tersebut, Ainy menawarkan untuk memberikan training cat pada wanita di atas 17 untuk mendapatkan sertifikasi. Sehingga mereka dapat berpartisipasi ikut dalam proyek pembangunan, dengan gaji yang setara dengan pria. Mereka juga diperbolehkan untuk pulang sejenak agar dapat memasak untuk anak-anak mereka lalu kembali ke tempat kerja.

Baca juga : Mengenal Peran Motivator Indonesia 2021 Yang Inspiratif

Menyukai gagasan yang membuat para wanita bisa bekerja sekaligus menjalankan perannya sebagai seorang ibu, mereka pun setuju. Mulai dari satu desa, hingga banyak desa lain juga ingin ikut serta dalam pekerjaan ini. Mulai dari 30-an wanita yang berpartisipasi, hingga mencapai 500 wanita.

Oxfam senang dengan hal tersebut, mereka menganggap bahwa itu berarti mereka dapat melakukan praktik penyetaraan gender. Sehingga Ainy pun diwawancara oleh berbagai wartawan luar negeri mengenai praktik tersebut.

Yang unik adalah setelah lulus dalam training mengecat, Ainy dan timnya berusaha merekomendasikan wanita-wanita yang bekerja sebagai tukang cat itu ke perusahaan NGO internasional lainnya agar mereka dapat terus bekerja. Nah dari situ, Ainy memikirkan juga nasib timnya. Karena sistem kerja perusahaan adalah pegawai kontrak, Ainy ingin timnya meiliki peluang ketika melamar kerja di perusahaan NGO lainnya.

Sebab itu Ainy mulai belajar meng-coaching teamnya, memastikan bahwa anak buahnya tidak akan terlantar setelah pekerjaan mereka dengan Oxfam selesai. Berkat itu Ainy pun terbesit ingin mendalami pekerjaan motivator Indonesia yang dapat meng-coaching orang banyak.

Mulai dari situ, Ainy berpikir untuk mengubah kariernya dan menjadi motivator nomor 1 Indonesia.

Jadwal Training Online

4 Rahasia Melatih Creative Thinking
  • 19 Agt 2021 | 09.00 - 11.30 WIB
  • Training Online via Zoom
Arti Creative Negotiation Skills Dan Bagaimana Caranya
  • 13 Sept 2021 | 09.00 - 12.00 WIB
  • Training Online via Zoom
Self Leadership in Challenging Times
  • 16 Sept 2021 | 09.00 - 11.30 WIB
  • Training Online via Zoom
Fraud Audit : Crucial Function Untuk Fondasi Bisnis Anda
  • 12 Okt 2021 | 09.00 - 12.00 WIB
  • Training Online via Zoom
Creative Problem Solving and Decision Making : Tools Pemimpin Sukses
  • 21 Okt 2021 | 09.00 - 12.00 WIB
  • Training Online via Zoom
Expertise di Procurement dan Purchasing, Sulit Kah?
  • 15 Nov 2021 | 09.00 - 12.00 WIB
  • Training Online via Zoom

Hubungi Team ALC

  • Celebration Garden Blok AC.9 No. 19 Grand Wisata – Bekasi 17510
  • 02182615440
    087779199555

Tinggalkan Balasan

Share With Your Friends